MENGUAK MISTERI PENYEMBUHAN PONARI

Menguak Misteri Penyembuhan PONARI 
oleh: admin
[ Jumat,13 Maret 2009 - 06:39 AM]
Puluhan ribu orang datang ke Jombang, ke kampung dukun cilik Ponari untuk mencari kesembuhan atas penyakit yang mereka derita. Dari sejarah perdukunan di Indonesia, mungkin praktik dukun Ponari ini paling menghebohkan. Orang mau desak-desak mengantre, mau datang dari jauh, mau gencet-gencetan, sampai 4 orang dinyatakan tewas. (Lha, mau cari sembuh kok malah tewas?).

Mengapa sampai ribuan orang mau datang ke tempat Ponari? Mengapa sampai ada yang memaksa tinggal di sekitar rumah Ponari, sambil menuntut supaya praktik perdukunan digelar lagi? Mengapa ada yang memburu air sumur, air comberan, sampai air sisa mandi Ponari? Mengapa sampai ada yang mengambil tanah, lumpur, atau apa yang bisa mereka bawa, yang diduga kuat disana terdapat “jejak kaki” Ponari? (Jadi ingat film Blue’s Clues yang digemari anak-anak).

Mengapa bisa terjadi semua kenyataan itu? Jawabnya sederhana, sebab kabar telah tersebar luas tentang kesaktian dukun Ponari yang terbukti mampu menyembuhkan banyak pasien. Konon, ada orang lumpuh, stroke, muntaber, dan lain-lain bisa sembuh setelah berobat dengan cara Ponari. Ada puluhan orang sudah terbukti sembuh, malah ada yang mengklaim ratusan orang sudah sembuh.


Ibarat dukun atau “wong pinter”, Ponari ini sudah istimewa sekali. Dia bisa melakukan pengobatan secara kolektif kepada banyak orang dan “sudah terbukti”. (Jadi ingat kampanye Dada Rosyada di Bandung waktu itu. Slogannya “sudah terbukti”. Kalau orang Jawa Timur ngomongnya ditambahi, “Sudah terbukti ngono!”). Dukun amatiran, biasanya mengobati 100 orang, 6 atau 7 bisa sembuh, selebihnya ngapusi (menipu). Nah, ini dukun Mbah Ponari. (Padahal usianya masih anak-anak kelas III SD, tapi sudah dipanggil Si Mbah). Di tangan Mbah Ponari, ratusan orang berhasil sembuh. Lagi-lagi “sudah terbukti”.

Karakter Opini Awam

Cara berpikir orang awam sangat simple. Apa yang tampak di mata, apa yang terdengar di telinga, apa yang teraba oleh telapak tangan; seketika itu juga dipercaya, diyakini, lalu diikuti. Easy, man!

Ibarat seseorang yang baru menurunkan buah nangka masak dari pohonnya. Begitu buah menyentuh tanah, seketika diserbu sampai habis tandas. Sampai tinggal dami, beton, kulit, dan getahnya saja. Itulah ciri selera orang awam. Tetapi di mata orang berwawasan, buah nangka bisa diolah sedemikian rupa sehingga nikmatnya berlipat ganda. Ada yang digoreng dengan tepung, ada yang dibuat dodol (jenang), ada yang diawetkan menjadi keripik, ada yang dibuat campuran kolak, es campur, puding, dan lain-lain. Jadi tidak main asal serbu saja.

Di mata orang awam, begitu mereka mendengar ada seorang bocah kecil kejatuhan batu setelah disambar petir, seketika menyebar berbagai macam opini seperti gelombang air bah. Mereka mulai bercerita, “Katanya, konon, jarene, ceuk si eta, qala fulan…,” dan sebagainya. Nah, inilah dia hidup di atas “jalan katanya”. Saat mendengar berita berikut: “Di Jombang ada dukun sakti. Dukun tiban. Masih anak SD kelas III. Dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit dengan jimat watu gluduk.” Setelah mendengar itu, tidak pikir-pikir lagi, tidak tunda-tunda lagi; meskipun dirinya lagi makan, lagi di angkot, lagi menggendong anak, lagi di WC, lagi rapat seru, lagi bergumul dengan isterinya, lagi ini lagi itu, dan seterusnya. Seketika semuanya ditinggalkan hanya karena mendengar berita kesaktian dukun hebat.

Lho, kok mereka bodoh amat ya? Jangan dibilang bodoh amat lah, tapi cukup disebut sangat awam. Mereka terlalu lugu, terlalu polos. Seperti analogi buah nangka tadi; begitu sampai di tanah langsung diserbu. Mereka bukan tidak berilmu atau tidak pernah mendengar informasi, tetapi mentalitasnya lebih menyukai hal-hal yang simple, instant, dan sensasional. Kalau mereka disuruh memilih antara segera makan mie instan atau menunggu gulai kepala kakap (ala masakan Padang) matang, mereka akan memilih makan mie instan. Jiwanya mudah menyerah dengan sesuatu yang praktis, tanpa mau capek-capek melakukan pendalaman.

Nah, orang-orang awam itulah yang saat ini menjadi “target market” utama perdukunan ala Mbah Ponari Al Jombangi. Mereka mudah diperdaya oleh sensasi menyesatkan. Bahkan yang seperti itu merupakan klien utama praktik kemusyrikan dimanapun. Na’udzubillah wa na’udzubillah minasy syirki.

Alternatif Penyembuhan Penyakit

Kalau ada beberapa orang datang ke dukun Ponari untuk berobat, lalu sembuh. Kemudian datang lagi beberapa orang lain, berobat juga, sembuh juga. Keberhasilan sembuh seperti itu di mata orang awam sudah dianggap sebagai bukti kesaktian seorang dukun. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sebagian orang mengatakan, bahwa dukun Ponari sudah menyembuhkan puluhan orang sakit, bahkan sampai ratusan orang sakit. Caranya sangat mudah, Ponari pegang “batu ajaib” miliknya, lalu dicelupkan ke air minum yang dibawa oleh para pasien atau pengantar pasien. Secara sederhana disimpulkan: “Dukun Ponari memiliki kekuatan sakti untuk menyembuhkan manusia!” Lalu orang-orang pun mengagungkan dirinya sebagai “manusia suci” yang layak dikeramatkan. (Jika hati manusia sudah sampai ke tahap menganggap dukun Ponari sebagai pemberi kesembuhan, jelas hal itu merupakan kemusyrikan yang sangat haram).

Di dunia selama ini dikenal beberapa cara penyembuhan, yaitu:

[1] Secara medis, dengan pemberian obat, asupan suplemen, operasi pembedahan, atau terapi medis. Ini adalah cara paling umum dan diakui secara universal. Meskipun tidak setiap pasien yang menerima penanganan medis otomatis sembuh. (Mayoritas pasien yang datang ke tempat Ponari, rata-rata kaum “frustasi” terhadap terapi medis. Katanya, “Sudah ke dokter dimana-mana, tapi belum sembuh-sembuh.”).

[2] Secara terapi pengobatan Nabi (Thibbun Nabawi). Sebenarnya cara ini lebih dekat ke sistem medis modern, hanya saja ia dilakukan dengan dasar keyakinan atas kebenaran sabda Nabi. Namun dalam riset-riset modern, ternyata apa yang disabdakan Nabi itu terbukti kebenarannya. Walhamdulillah.

[3] Pengobatan dengan ruqyah (dibaca-bacakan doa atau dzikir ruqyah). Pengobatan ini sifatnya meminta pertolongan Allah lewat doa dan dzikir, seperti yang diajarkan oleh Nabi. Jika memakai media, biasanya air atau daun bidara. (Tetapi media disini bukan seperti batu, jimat, kalung, cincin, tulang, dll. yang dijampi-jampi dengan mantra-mantra, lalu diharapkan ia memiliki kesaktian penyembuhan. Tidak demikian. media yang dipakai dalam ruqyah umumnya air bersih, dibacakan doa-doa yang benar, dan diyakinkan di hati bahwa yang menyembuhkan adalah Allah. Dan tanpa media air pun bisa, sebab kita boleh berdoa dan berdzikir secara leluasa).

[4] Pengobatan dengan cara sihir, yaitu memanfaatkan tenaga jin-jin untuk “menyembuhkan” manusia. Caranya dengan memanfaatkan kemampuan jin-jin itu untuk melakukan terapi pengobatan sesuai keahlian mereka yang tentu saja sifatnya ghaib (tidak kita ketahui caranya, sebab berbeda alam). Atau sebagian jin disuruh untuk mengusir jin-jin lain yang bersarang di tubuh orang-orang sakit yang menyebabkan mereka menderita sakit. Banyak penyakit disebabkan oleh jin-jin yang menyusup ke tubuh manusia. Praktik tenung, santet, voodoo, kesurupan, dll. adalah bukti bahwa jin-jin itu bisa menyusup ke tubuh manusia. Bahkan Nabi mengatakan, “Syaitan (dari bangsa jin) bisa masuk ke tubuh Bani Adam seperti mengalirnya aliran darah.” Nah, penyembuhan itu dilakukan oleh jin yang kuat untuk mengusir jin-jin yang lebih lemah yang ada di tubuh manusia.

[5] Cara pengobatan asal-asalan, tanpa sandaran apapun, dan hasilnya secara kebetulan berhasil. Cara pengobatan asal-asalan itu ada, meskipun kerap kali menyebabkan orang celaka. Anda ingat di masyarakat kadang muncul istilah “dokter palsu” atau “dukun palsu”. Itu artinya pengobatan asal-asalan, hanya mengandalkan sugesti pasien sebagai modal pengobatannya.
Kalau melihat cara yang dilakukan dukun Ponari, yang dia lakukan adalah metode sihir. Alat yang dia gunakan adalah watu gluduk, batu yang disebut-sebut jatuh saat tersambar petir. Tetapi inti kekuatannya bukan pada batu itu sendiri, tetapi pada jin-jin yang ada di baliknya. Bisa saja ia satu jin, atau beberapa jin, atau banyak jin sekaligus. Sedangkan mencelupkan batu ke air, itu hanyalah langkah zhahir saja; sementara yang riil bekerja disana adalah jin-jin itu.

Praktik Sihir Pengobatan

Saya menyimpulkan, praktik yang dilakukan Ponari adalah bagian dari sihir. Sihir itu direalisasikan dengan alat watu gluduk (“batu ajaib”). Tetapi yang berperan disana ya jin-jin juga, bukan batu itu sendiri. Banyak benda-benda lain yang kerap digunakan, seperti keris, batu delima, cincin, kalung, jengglot, dan lain-lain. Tetapi benda-benda itu hanya “rumah hunian” saja bagi jin-jin durhaka itu. Maka kalau jin-nya sudah diusir, benda-benda itu akan kembali menjadi benda material biasa.

Bapak Kasman, pakar sihir di Bandung yang telah meninggal, beliau memiliki banyak koleksi keris yang sudah ditinggalkan oleh para “penghuninya” yaitu jin-jin durhaka. Tadinya keris itu bisa melakukan atraksi macam-macam, tetapi setelah penghuninya pergi, ia kembali menjadi benda biasa. Nah, tugas para Empu (dukun sihir) di masa lalu, selain menyiapkan benda pusaka (materialnya), juga mengikat jin-jin tertentu agar masuk ke benda pusaka itu. Menurut istilah orang-orang sekarang, melakukan “pengisian energi”. Padahal sejatinya, mengikat jin-jin durhaka agar tinggal di suatu benda tertentu.

Alasan mengatakan praktik Ponari ini adalah sihir, antara lain:

[a] Cara pengobatan Ponari sangat tidak rasional. Dari sisi medis, sangat tidak cocok; dari pengobatan herbal, juga tidak; kalau disebut memakai metode Nabi, beliau tidak mencontohkan cara seperti itu; kalau disebut ruqyah Islami, Ponari memakai batu dan tidak membaca doa atau dzikir ruqyah.

[b] Pertama kali pengobatan dilakukan oleh Ponari kepada adiknya sendiri yang menderita panas (disebut juga muntaber). Pertanyaannya, lho darimana Ponari tahu kalau batu itu berkhasiat memberi pengobatan? Namanya juga batu, bisa saja untuk berbagai keperluan lain. Mengapa tiba-tiba ada ide untuk pengobatan? Ponari kan bocah kecil, kelas III SD, sebelumnya tidak pernah terlibat dalam kegiatan pengobatan-pengobatan. Bahkan, mengapa pengobatan harus mencelupkan batu ke air, lalu diminum? Apa Ponari diajari di sekolahnya praktik seperti itu? Itu tandanya, ada kekuatan lain di balik Ponari yang tiba-tiba mengendalikan dirinya.

[c] Usia Ponari yang masih kecil, padahal biasanya tukang-tukang sihir itu orang dewasa. Antara usia yang sangat muda, dan kemampuan memberi pengobatan terhadap banyak penyakit, hal ini menandakan ada lompatan kekuatan manusiawi yang terlalu lebar. Bagaimana seorang anak kecil bisa begitu “sakti” (jika boleh dikatakan demikian), kalau tidak melalui praktik sihir?
Kalau watu gluduk Ponari bisa berpindah sendiri dari kebun ke meja di rumahnya, itu yang memindahkan bukan batunya sendiri, tetapi penghuni yang ada di dalamnya. Atau jin-jin yang menyertai benda itu. Anda jangan heran dengan kekuatan jin. Di jaman Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, mereka bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis hanya dalam kedipan mata. Konon, sebagian kyai di Indonesia, ada yang setiap Jum’at ikut Shalat Jum’at di Makkah, padahal sehari-hari ada di Indonesia. Kalau benar ada yang seperti itu, kalau benar lho ya, itu memakai metode seperti jin di masa Nabi Sulaiman dan Balqis. Di tangan Sulaiman ia dihalalkan, tetapi di tangan kita (Ummat Nabi Saw) tidak halal alias haram.

Lho, kan sihir itu jahat ya? 

Kata siapa semua sihir jahat? Banyak sihir yang berurusan dengan MANFAAT, seperti pengobatan, kekayaan, tenaga dalam, ilmu kebal, penampilan fisik, jabatan, kelancaran bisnis, mengikat cinta, sulap, atraksi, dan sebagainya. Secara umum, sihir berurusan dengan perkara MADHARAT dan MANFAAT. Yang berurusan dengan madharat disebut SIHIR HITAM, yang berurusan dengan manfaat disebut SIHIR PUTIH. Tetapi kedua-duanya SIHIR, merupakan hasil persekutuan dengan jin, dan ia merupakan kemusyrikan yang berakibat kekafiran.

Bedanya dengan Nabi Sulaiman As., beliau TIDAK BERSEKUTU dengan jin-jin itu, tetapi beliau memaksa jin-jin itu untuk bekerja kepadanya. Mereka dipaksa bekerja dan melayani petintah Sulaiman dalam keadaan takut. Nabi Sulaiman tidak memberi apapun sebagai imbalan atas kerja jin-jin itu. Adapun dalam persekutuan sihir, semua tukang sihir harus menyerahkan sesuatu yang berharga miliknya sebagai imbalan atas kerja yang jin-jin lakukan. Imbalan itu biasanya sesuatu yang nilainya sangat berat bagi tukang-tukang sihir itu. Minimal, mereka harus menyerahkan keyakinan (akidah) mereka kepada kekafiran. Adapun Nabi Sulaiman tidak pernah memberi apapun kepada jin-jin itu, meskipun hanya sebutir batu atau sepotong kayu.

Dalam Al Qur’an disebutkan:
“Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh setan-setan pada zaman kerajaan Sulaiman, sedang Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setanlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; dan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sehingga keduanya berkata, ‘Sesungguhnya kami hanya (membawa) fitnah (cobaan), sebab itu janganlah engkau menjadi kafir (karena mempelajari sihir).’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu (tentang sihir) yang dengannya mereka menceraikan seorang (suami) dari isterinya. Dan mereka tidak memberi mudarat kepada seorang pun dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari apa yang memudaratkan mereka dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukar (keimanan dengan) sihir, tiadalah baginya bagian (kebaikan) di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya (dengan sihir) kalau mereka mengetahui.” (Surat Al Baqarah: 102).

Pemanfaatan sihir untuk pengobatan itu sudah lama dipakai. Sejak jaman dulu. Di Jawa para dukun yang memberi pengobatan kerap disebut Tukang Suwuk (tukang pembaca mantera-mantera untuk pengobatan). Mereka tidak membaca doa atau dzikir ruqyah, tetapi membaca mantra-mantra, yaitu kalimat-kalimat kufur yang sangat disukai oleh jin-jin durhaka. Media yang digunakan bisa macam-macam, berbeda dengan ruqyah Islami yang umumnya hanya memakai air putih bersih. Dan dalam ruqyah tidak ada unsur kekafiran apapun.

Apa yang selama ini kita dengar sebagai “pengobatan alternatif”, “pengobatan supranatural”, “pengobatan energi alam”, “pengobatan tenaga dalam”, “pengobatan nur hikmah”, dan sebagainya, semua itu hanya istilah pemanis saja. Padahal intinya pengobatan sihir juga (SIHIR PUTIH). Semua jenis sihir, baik sihir hitam maupun putih, sama bahayanya. Dan yang lebih menyesatkan manusia adalah SIHIR PUTIH, sebab kelihatannya baik, bermanfaat, mulia, dll.

Lho, masak sihir sih? Itu kan pakai doa-doa juga, dzikir juga, puasa juga, pakai shalat, dan sebagainya? Masak sihir sih?
Ya, kita lihat dulu mekanisme pengobatannya. Kalau hanya memakai air, atau makanan yang biasa dimakan, lalu dibacakan doa-doa yang benar dari Al Qur’an atau Sunnah Nabi, dan diyakinkan di hati bahwa itu hanya usaha saja, sementara pemberi kesembuhan sejati adalah Allah As Syafi, maka cara demikian bukan sihir.

Tetapi meskipun memakai doa, dzikir, shalat, baca ayat-ayat, dan sebagainya, tetapi kalau mekanisme tidak rasional, misalnya mencelupkan batu ke air, mencelupkan cincin, menggosok dengan pusaka, memindahkan sakit ke binatang, mengerahkan tenaga dalam, dan sebagainya; jelas semua itu adalah sihir. Cara yang diajarkan Nabi adalah pengobatan, terapi, dan ruqyah. Kalau memakai cara-cara di luar itu, dengan memakai media aneh-aneh, mengerahkan tenaga dalam, melakukan “pengisian”, dan seterusnya. Jelas semua itu telah menyimpang.

Doa dan dzikir yang dipakai dalam praktik sihir putih, itu lebih berbahaya ketimbang mantra-mantra dalam sihir hitam. Mengapa? Sebab kemungkinan orang akan tertipu sangat besar. Mereka menyangka itu pengobatan Islami, padahal sihir-sihir juga. Cara menandainya, biasanya dalam pengobatan seperti itu tidak dibacakan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits yang bisa mengusir jin atau membakarnya. Kalau tidak percaya, coba datanglah ke tempat seperti itu, lalu bacakan Ayat Kursi atau Surat Al Al Baqarah dengan keyakinan penuh secara intensif. Pasti bacaan Anda akan sangat dibenci di tempat seperti itu.

Kelemahan Sihir Pengobatan

Sihir sebagaimana cara pengobatan medis, tidak bersifat mutlak. Kadang berhasil, dan kadang gagal. Sekali lagi saya tegaskan, hakikat kesembuhan itu dari Allah Ta’ala, bukan dari obat, terapi, atau sihir. Semua itu hanya cara manusia untuk usaha, sedangkan pemberi nikmat sehat dan sembuh, hanya Allah saja. Buktinya apa? Sederhana saja, para dokter, apoteker, dukun, paranormal, dll. mereka juga mengalami sakit, seperti manusia biasa. Kalau di tangan mereka ada kesembuhan, pasti mereka bisa menolak penyakit datang ke dirinya. Lagi pula, di dunia ini tidak ada satu pun yang berani mengklaim: “Bisa memberi kesembuhan secara mutlak!” Para tukang sihir paling sakti pun tidak berani mengklaim. Buktinya, ketika waktunya mati, para tukang sihir itu mati juga.

Dalam pengobatan sihir ada banyak kelemahannya, termasuk dalam praktik yang dilakukan oleh Ponari saat ini. Antara lain:

[1] Ada sebagian orang yang bisa sembuh, tetapi banyak juga yang gagal.

[2] Pengobatan sihir itu tidak jelas parameternya. Kita tidak tahu, apakah ada kemajuan atau belum, apakah pengobatan sudah berjalan atau mandeg, apakah proses bisa cepat atau lambat, dan sebagainya. Tidak ada parameter yang jelas, berbeda dengan metode pengobatan medis pada umumnya.

[3] Kesembuhan yang diperoleh biasanya bersifat sementara, tidak ajeg (berkesinambungan). Nanti, sakit itu bisa kambuh lagi. Orang-orang yang kini gembira dengan kesembuhan, nanti mereka akan kecewa. Itu pasti!

[4] Kalau seseorang di hatinya tidak yakin dengan cara penyembuhan itu, biasanya pengobatan menjadi gagal. (Target utama para jin itu memang untuk memalingkan keyakinan manusia dari kebenaran. Kalau sejak awal kita sudah tidak yakin, jin-jin itu juga tidak mau membantu).

[5] Kesembuhan yang diperoleh biasanya membuat seseorang semakin jauh dari Allah, semakin jauh dari amal shalih. Bisa jadi, mereka mendapat kesembuhan, tetapi mereka bisa kehilangan Allah. Duhai, sebuah pertukaran yang tidak sebanding sekali. Alangkah indahnya, tetap sabar dalam sakit, namun selalu mendekap keimanan di hati dan cinta yang tulus kepada Ar Rahmaan Al Khaliq.

[6] Sekali seseorang merasa mendapat manfaat dari pengobatan sihir, biasanya dia akan terjerumus lagi dengan cara-cara serupa dalam bentuk lain. Pada suatu titik, dia akan menjadi “penggemar”, atau “fans berat” praktik perdukunan. Sejak itu hidupnya terseok-seok di jalan mistik, supranatural, “alam ghaib”, dan sebagainya.

Watak praktik sihir memang seperti itu. Ia kelihatan bermanfaat pada sebagian orang, dan gagal pada orang-orang lain. Pendek kata, disini tidak ada yang mutlak. Wong, jin-jin itu sendiri tidak bisa menolak keburukan yang Allah timpakan kepadanya. Bagaimana mereka akan menjamin kesembuhan?
Dalam Al Qur’an: “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan beruntung tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (Surat Thaha: 69).

Maka saran saya, sebaiknya praktik pengobatan Ponari dihentikan. Ditutup secara total. Lalu batu Ponari serahkan kepada orang-orang beriman untuk dihancurkan, seperti Ibrahim As. menghancurkan patung-patung di masa lalu. Selanjutnya, Ponari harus direhabilitasi secara fisik, psikologis, dan mental. Kasihan anak itu, dia tidak tahu apa-apa! Dia adalah anak kecil yang tidak memahami kondisi ini. Tubuhnya dipakai oleh jin-jin durhaka untuk menyebarkan kesesatan. Ponari ini harus dibimbing dan diterapi ruqyah Islami agar ia kembali ke kehidupan semula, layaknya anak-anak kecil biasa. Dan ia perlu dididik dengan metode tauhid Ibrahim As. biar ke depan tidak diganggu lagi oleh makhluk-makhluk durhaka itu.

Efek Penyesatan Ummat 

Ujung dari praktik Ponari ini bukanlah untuk menyembuhkan pasien, membantu masyarakat, menyediakan pengobatan murah dan efektif, atau semisal mencari keuntungan dari praktik pengobatan alternatif. Ujung dari semua ini adalah: Penyesatan akidah Ummat!

Orang yang datang ke Ponari, lalu sembuh; dia akan percaya bahwa Ponari sakti, batu Ponari sakti, dia bisa menyembuhkan, dan lainnya. Nanti kalau Ponari meminta sesuatu kepada orang-orang yang sembuh itu, dijamin akan dilayani dengan sempurna, sebagai bagian dari “mengabdi kepada orang suci”. Bagi yang gagal sembuh, mereka akan mencari dukun-dukun yang lain, untuk mengejar kesembuhan, sampai mendapatkan. Bisa jadi, setelah sekian lama mencari, akhirnya dia cocok dengan dukun tertentu. Disanalah dia terjerumus dalam syirik. Na’udzubillah wa na’udzubillah minas syirki, zhahira wa bathina.

Orang yang sekarang sembuh, tetapi nanti kambuh lagi. Mereka akan penasaran, lalu mencari “Ponari Ponari” yang lain. Ya bagaimana lagi, hatinya sudah kadung cinta dengan dunia “alam ghaib” seperti itu.

Sihir itu sendiri adalah kekafiran, biarpun dibungkus dengan doa, dzikir, atau apa saja. Para pelaku sihir akan menjadi kafir, sebab dia menyerahkan hatinya kepada kekafiran. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Sedikit yang diperoleh, tetapi sangat besar tebusan yang harus diberikan. Jin-jin durhaka sangat suka dengan orang-orang yang mau menyerahkan agamanya sebagai ganti pelayanan yang mereka peroleh. Sebab memang itu tujuan mereka, menyesatkan manusia!

Lebih baik, seorang Muslim tabah dalam sakitnya, tetap mengimani Allah dan menjalankan agama sekuat kesanggupannya. Biarlah dia sakit, asalkan tetap beriman dan ridha kepada-Nya. Daripada mereka mendapat kesembuhan (menipu), tetapi akibatnya mereka jatuh dalam kekafiran, ditinggalkan oleh Allah, hati menjadi gelap, sulit mendapat khusyuk dalam ibadah, dan diserahkan jiwanya kepada syaitan-syaitan. Na’udzubillah bi ‘Izzatillah min kulli dzalik.

Kalau mau ikhtiar, carilah cara-cara yang baik, cara yang wajar. Jangan seperti cara-cara buruk itu. Lebih baik kita tetap sakit tetapi istiqamah dalam keimanan, daripada menjadi sembuh tetapi terjerumus kemusyrikan. Di mata orang beriman, sakit itu bisa menjadi kebaikan kalau dihadapi dengan syukur; dan di mata orang jahil, tubuh sehat pun kerap kali tidak menambah kebaikan baginya.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan. Yang benar dari Allah, yang salah dari diri saya sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Wallahu a’lam bisshawaab.

0 komentar:

Poskan Komentar